Showing posts with label My lovely. Show all posts
Showing posts with label My lovely. Show all posts

Tuesday, March 20, 2007

Puisi Made in Ayah



"" TITIPAN TERINDAH ""


Assalamu'alaikum Wr.Wb

Setahun sudah Mahligai Rumahtangga kita Bina
Suka dan duka Telah kita lalui bersama
Rindu akan terciptanya suasana Bahagia
Dan harap itu pun datang menghampiri Jua

Ya Robbi engkau titipkan Amanah Terindah untuk Kami
Engkau berikan kasih dan cinta- Mu kepada kami
Oh... Robbi engkaulau Cintanya yang maha mencintai..
tak layak aku jauh dari cinta Mu yang teramat Suci


Robbi... Disaat detik keajaiban kekuasaan mu terlihat jelas
Disaat itu pula air mata kami pun mengalir deras
Ya.. Robbi inikah ciptaan Mu, kebesaran Mu dan kekuasaan Mu...

Robbi kini harapku kembali hanya kepadamu
Berikan kami ilmu
Bimbinglah kami agar kami mampu menjaga amanah ini dengan setulus hati

Laa Haaula walaa Quwaata illah billah

Tiada daya dan kekuatan melainkan engaku ....

kami berserah dan berharap cinta dan kasih sayang mu...



ARTHUR SINGGIH
Selengkapnya...

Monday, December 4, 2006

Untuk Suamiku...

Teruntuk Suamiku Oct 30, '06 11:03 PM
for everyone

suamiku tersayang...
ada rasa yang kubiarkan
mengalir hangat saat terkenang
masa ta'aruf yang tak terlalu panjang
sebuah khitbah yang begitu berkesan

yaa zauji...
pernikahan ini sungguh kurindui
sebagai benteng pertahanan diri
sebagai saranan untukku mendekati
cinta abadi kasih Ilahi

kepada siapakah aku harus mengadu
ketika kerikil mulai berserak
kepada siapakah aku harus mengadu
ketika riak mulai berombak
kepada siapakah aku harus mengadu wahai suamiku
padamu?
sungguh aku tak tega
karena kau pun manusia biasa
yang punya hati, punya rasa
keluh kesahku kan membuatmu terluka

duhai suamiku...
doakan diriku
agar selalu mencintaimu
agar selalu menyayangimu
agar selalu menghormati dan menghargaimu
karena kaulah yang selama ini kutunggu
dalam rindu
karena kaulah yang selama ini kunanti
tanpa pasti

wahai kekasihku...
ingatkan diriku
betapa panjang doa-doaku
ketika aku mengharapmu
mengharap kekasih Allah kan mendampingi selalu
menjaga dari lalai dan futur
ingatkan aku untuk bersyukur
agar tidak pernah diri ini menjadi kufur
terhadap ni'mat yang tiada terukur

uhibbu ilaik...
banyak darimu yang kukagumi
memupuk cinta semakin bersemi

kalau ada yang sehangat pelukanmu
itu pastilah binar matamu
andai ada yang semanis kecupanmu
itu tentunya hanyalah senyummu

duhai suamiku...
tempalah aku dalam bimbingan dan kasih sayangmu
agar kuberkilau sebagai perhiasanmu
yang kan melengkapi kebahagianmu
dunia wal akhirat

Istrimu tercinta
Selengkapnya...

Wednesday, November 29, 2006

Nemu Tips Bagus (Special 4 Me and Abang)

TIPS BERTENGKAR
Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin cantik kalau marah,makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramalsholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yangdikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimumenjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”
Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :).
Maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah

Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlipat masa (maksudnya masa lalu kita)
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan dan bukan menghancurkannya.
Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang patah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila itu dikaitkan dgn seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun saya marah,maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dgn kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini …..

Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga
Saya dengan isteri saya terikat baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan konsep Quran,seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta yang panas ini”.
Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usyah ditambah tambah dengan memusuhi mertua!

Kalau marah jangan di depan anak-anak.
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :
* Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
* Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda????!!!!
* Anak : “…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”
Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan.
Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa hati kita ???

Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat.
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu’alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah damai atas kami, demikian juga atas hamba hambamu yg sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan Nya.
OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi …. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah kayaknya kita sepakat kalau habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar …
Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan,
Tapi yang jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki-maki.


SEMOGA BERMANFAAT....
Selengkapnya...